Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

Surau Kyai Samsul

Bagian 1.

Surau itu terletak di pinggir jalan desa di tepi sungai kecil. Ukuran bangunan utamanya sekitar 7 x 7 meter. Penutup atapnya menggunakan bahan genteng yang terbuat dari tanah liat. Konstruksi atap berbentuk limas bersudut 45 derajat dengan ujung tertingginya dihiasi kubah dari bahan seng. Sebelum pintu masuk terdapat teras dengan lebar sekitar 3 meter. Atap teras di buat dari bahan seng gelombang dengan rangka kayu meranti. Di samping sebelah utara surau itu berdiri sebuah menara dari bahan baja siku 60×60 dicat warna putih. Di puncak menara terlihat 2 unit pengeras suara menghadap ke utara dan selatan.

Di halamannya yang tidak seberapa luas tertata rapi pot-pot berisikan bunga mawar merah dan putih layaknya bendera terhampar. Kyai Samsul yang mendirikan surau itu memang seorang yang sangat cinta tanah air. Baginya lahir dan hidup di Indonesia adalah suatu anugerah yang patut disyukuri. Di Indonesia orang bebas memeluk agama apapun sesuai keyakinannya. Kegiatan beragamapun tidak pernah dipersulit. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai toleransi.

Di samping surau itu nampak sebuah gundukan tanah makam. Sebuah tanaman bunga sedap malam nampak berdiri disamping makam. Kelopak bunganya yang berwarna putih bersih nampak semakin bercahaya dibasuh oleh sinar mentari. Di atas tanah makamnya nampak taburan bunga mawar yang masih terlihat segar. Tentu saja warnanya merah putih pula. Pada batu nisan yang terbuat dari beton cor berlapis teraso itu tertulis nama Abas. Dia adalah kakeknya Kyai Samsul seorang  guru ngaji yang konon adalah tokoh yang membuka desa itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sudah saatnya sholat Dhuhur. Sesaat kemudian suara Kang Jupri muadzin yang bertugas terdengar lantang. Kyai Samsul yang saat itu sedang memunguti bunga-bunga kering di sekitar makam segera menghentikan aktifitasnya. Dengan langkahnya yang masih terlihat tegap Kyai Samsul melangkah ke arah padasan atau tempat wudhu yang terletak disamping toilet. Walaupun kecil tapi surau itu memiliki 2 tempat wudhu dan toilet yang masing-masing untuk jamaah laki-laki dan perempuan.

Penduduk sekitar surau itu mulai berdatangan, mereka yang rata-rata berprofesi sebagai petani itu memang selalu sholat berjamaah. Jamaah mulai laki-laki menempati shof-shof yang berada di depan. Satu persatu mereka melaksanakan sholat sunnah. Ada 3 garis warna putih berjarak masing-masing sekitar 1 meter. Garis putih itu adalah pembatas antar shof. Sekitar 2 meter dari shof ketiga terdapat kain pembatas untuk jamaah perempuan. Ukuran ruang untuk jamaah perempuan sekitar 4 x 6 meter. Cukup untuk menampung 20 jamaah perempuan.

Kyai Samsul sebagai sesepuh dan tokoh masyarakat yang dihormati bertindak sebagai imamnya. Beberapa saat kemudian Kang Jupri mengumandangkan iqomah pertanda sholat jamaah segera dimulai. Kyai Samsul segera menempati paimaman. Sejenak beliau menghadap ke para jamaah. Tanpa dikomando jamaah segera mengisi deretan-deretan shof. Dengan tertib mereka mengisi shof mulai dari yang terdepan. Setelah lurus dan rapat mereka baru mengisi shof dibelakangnya. Setelah semua rapat dan lurus Kyai Samsul segera menghadap ke kiblat untuk memimpin sholat jamaah.

Setelah selesai sholat, para jamaah tetap tidak beranjak dari tempatnya, mereka berdzikir mengikuti Kyai Samsul. Ketika Kyai Samsul berdoa, mereka dengan tertib mengaminkannya sampai selesai. Seperti biasanya sehabis sholat Dhuhur Kyai Samsul akan memberikan ceramah singkat. Kembali Kyai Samsul mengambil posisi berhadapan dengan jamaah. Setelah membaca basmalah, hamdallah dan sholawat Kyai Samsul segera memulai ceramahnya.

“Para jamaah yang dirahmati Allah. Kita harus banyak berdoa kepada Allah  agar kehidupan kita diliputi rahmat-Nya. Dengan rahmat Allah maka kita akan mudah menjalankan perintah Allah dan  meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah”. Kyai Samsul berhenti sejenak dan memandang dengan tajam jamaah yang ada dihadapannya. Sambil jemarinya memainkan butiran-butiran tasbih Kyai Samsul melanjutkan ceramahnya.

“Dengan rahmat Allah maka  kita akan ditunjukkan jalan yang lurus oleh Allah. Dengan rahmat Allah pula maka dosa kita pasti diampuni Allah. Dengan adanya rahmat Allah  juga maka  kita akan dibimbing oleh Allah menuju surga-Nya”.

Kyai Samsul menarik nafas panjang. Pelan-pelan beliau melanjutkan ceramahnya. “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِ نَّهٗ يَأْمُرُ بِا لْـفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًا وَّلٰـكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. An-Nur 24: Ayat 21)”.

Sebelum mengakhiri ceramahnya, Kyai Samsul memberi kesempatan jamah untuk bertanya. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh jamaah. Beberapa jamaah laki-laki terlihat mengacungkan tangannya. Kyai Samsul menunjuk Kang Dikin untuk mengajukan pertanyaannya.

“Assalamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh, maaf Kyai. Saya ini orang bodoh, tidak bisa membaca Al-Quran. Ibadah saya juga pas-pasan saja. Lalu bagaimanakah caranya agar saya selalu mendapatkan rahmat dari Allah?”

Mendengar pertanyaan itu Kyai Samsul tersenyum. Kemudian dengan suaranya yang penuh wibawa Kyai Samsul menjawab.

“Kang Dikin harus selalu rajin berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Kang Dikin dan keluarga. Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan permohonan Kang Dikin. Jangan berputus asa terhadap rahmat Allah. Berprasangka baiklah terhadap takdir Allah. Insya Allah kebaikan pula yang akan meliputi kehidupan Kang Dikin beserta keluarga. Apapun yang terjadi kepada kita, apapun yang kita miliki sesungguhnya adalah ujian. Sedih, gembira, miskin ataupun kaya itu semua adalah ujian. Namun Allah berfirman didalam kitab suci Al-Quran bahwa Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan kita. Kita harus yakin bahwa selalu ada jalan manakala kita selau berdoa dan ber ikhtiar”.

Sejenak Kyai Samsul menghentikan tausiyahnya. Pandangan matanya yang sejuk menatap tajam Kang Dikin.

“Bagaimana Kang Dikin, apakah jawaban saya cukup jelas? Kalau sudah cukup jelas sebaiknya kita akhiri pertemuan kita kali ini. Langit terlihat gelap, mendung sangat tebal. Rasanya sebentar lagi akan turun hujan. Silahkan pulang, barangkali ada gabah ataupun cucian yang sedang dijemur segera di bereskan. Semoga kita istiqomah untuk berdoa kepada Allah agar Allah merahmati kita  sehingga kita  menjadi seirang hamba yang hidup bahagia di  dunia dan di akhirat. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi kita semua. Ceramah kali ini saya akhiri”.

Setelah menutup dengan ucapan salam, Kyai Samsul dan para jamaah segera meninggalkan surau.

Share Now:

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter