Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

Love Yourself

Serpihan yang Tercecer

Kali ini, kubiarkan saja bayanganmu berceceran memenuhi seluruh hidupku. Pagi, siang, malam sampai pagi lagi bayanganmu selalu datang. Kali ini aku tidak butuh mimpi untuk menghadirkan dirimu. Aku tidak lagi butuh malam maupun siang, aku tidak lagi butuh tidur ataupun terjaga. Setiap saat, setiap tarikan dan hembusan nafasku, setiap membuka ataupun memejamkan mataku, dirimu selalu ada. Kubiarkan berbagai ekspresi wajahmu mengakar mencengkeram seluruh urat nadiku. Kubiarkan senyummu memenuhi seluruh isi kepalaku. Sebab hanya itulah serpihan yang tersisa dari kisah ini.

Tak ada yang patut dikenang, apalagi dibanggakan. Sebagai seorang pecundang aku tetap bersyukur bayanganmu masih mau menemani aku. Tidak…aku bukan pecundang tapi aku memilih menepi dan berjalan kedepan seperti yang seharusnya kupilih sejak semula. Ini bukan masalah menang atau kalah. Ini adalah tentang kebenaran yang harus selalu dipertahankan. Ini adalah tentang menjadi lelaki sejati. Bukan tentang keperkasaan pencuri hati.

Pencuri hati? Tidak…Tidak. Kurasa aku bukan pencuri hati. Tapi lebih jahat dari itu. Saat aku menawarkan madu yang telah ku lumuri racun yang memabukkan. Saat kau minum madu dan racun karena melihat aku juga minum. Dan saat kita sama-sama mabuk kepayang.

Serpihan hati, tercecer di bawah telapak kaki
Serpihan hati, tercecer di bawah telapak kaki

Sejak kehadiranmu, kurasakan antara pikiran dan hati selalu saling berseberangan. Selalu saling menyalahkan, saling mengalahkan. Terkadang aku seperti sang juara sakti mandra guna yang jumawa karena telah mencairkan gunung es. Terkadang juga aku merasa seperti seorang BEDEBAH yang menerjang etika dan norma dengan begitu pongahnya. Dan akibatnya membuat aku merasa lebih biadab dari Rahwana, Duryudana dan tokoh-tokoh jahat di dunia pewayangan lainnya.

Jika tidak pernah memiliki, bagaimana mungkin rasa kehilangan kamu itu bisa sepedih ini. Jika tidak pernah saling mencintai, bagaimana mungkin hati bisa sepatah ini. Setiap ucapan ataupun perbuatan pasti membawa akibat. Itu sudah hukum alam. Seandainya saat engkau tanya apa maksud dari tulisan atau posting-postinganku saat itu, seharusnya aku tahu harus menjawab apa. Seandainya saat itu aku memilih berdusta dan membohongi perasaanku, membohongi kamu. Pasti kamu akan marah.

Tapi penyelesaiannya mudah dan sederhana. Barangkali aku tinggal bilang, maaf aku cuma bercanda, semua tulisan  ataupun  postingan yang kubuat untukmu adalah sekedar penghangat, agar ketika  reuni itu tiba, suasananya tidak dingin, kaku dan membosankan. Semuanya mungkin akan selesai lebih cepat, seketika itu barangkali engkau akan membenci aku karena merasa dipermainkan. Walaupun begitu, aku yakin kebencianmu tak akan bertahan lama. Tapi aku tidak bisa mendustai diriku sendiri, aku memilih jujur pada perasaanku dan mengabaikan semua resiko yang akan terjadi pada kita. Aku seperti anak ingusan yang tidak mampu membedakan salah dan benar.

Hug yourself, digambar oleh: Naning Riwayati
Hug yourself, digambar oleh: Naning Riwayati

Bukan cinta namanya kalau pada akhirnya hanya menimbulkan penyesalan. Aku menyesal karena telah mendorongmu ke dalam jurang kepalsuan yang teramat dalam. Kujulurkan tanganku, kurengkuh kamu dari dalam jurang. Kita sama-sama terjatuh karena sama-sama memikul beban berat. Aku juga menyesal karena telah menaikkanmu ke atas kuda liar dan membiarkan kuda liar itu melompat-lompat.

Aku begitu ketakutan. Aku takut kamu terjatuh dan terluka. Aku mendekati kuda liar itu. Dengan keberanianku yang sebetulnya tak seberapa, aku mencoba melompat naik. Kudekap erat ragamu dan menemanimu sampai kuda itu lelah dan terdiam. Nafasku terengah, nafasmu juga terengah. Ternyata,….Menipu diri itu begitu melelahkan dan menyiksa bathin.

Ketika kamu menanyakan muara dari kisah ini, aku selalu berkata semoga muaranya adalah kita berdua sebagai pemenang dan membawa cinta yang semakin membara untuk dipersembahkan kepada pasangan kita masing-masing. Tentu saja kalimat itu adalah dusta belaka. Ketika pujangga itu mengatakan bahwa cinta tak selalu harus memiliki. Ku akui itu benar sekali.

Dan yang selalu berulang kali aku tanyakan adalah, kenapa yang tak harus memiliki itu adalah aku? Yang tak bisa kumiliki adalah kamu?. Aku seperti halnya Rahwana Dan Duryudana. Menyembunyikan cinta dan menutupinya dengan kesalahan. Kenapa cinta akhirnya menyandingkan aku dengan tokoh-tokoh yang dibenci oleh kebanyakan orang?

Saat itu aku ingin mengakhiri perjalanan ini agar luka itu tidak tergores terlalu dalam. Sudah terlalu banyak serpihan daging dan darah tercecer. Sudah saatnya mengakhiri kejujuran ini. Tapi bayangan tentang kesepian dan hati yang terluka, selalu membuat aku mengurungkan niatku. Ku akui aku terlalu lemah untuk sekedar menundukkan sepi. Aku tetap berjalan dan membiarkan dada bergolak lebih karena dalam waktu yang bersamaan harus menahan rasa gembira dan sedih, menahan rasa senang dan sakit.

Namun ketika pada akhirnya sampai juga perjalanan ini pada muaranya, dan aku memilih untuk tidak keluar sebagai pemenang, aku rela aku tidak menyesal sedikitpun. Memandangmu dari kejauhan dan membiarkanmu meraih kebahagiaan bersama orang-orang yang mencintaimu.  Kurasa itulah yang terbaik. Jangan lagi ada darah tertumpah, jangan lagi ada hati yang terluka. Lupakan saja aku. Biarlah duka itu kutanggung sendiri, karena aku adalah pemilik sepi, kesepian dan luka itu telah berteman dengan aku sejak lama.

Aku juga tak bisa menyalahkan cinta yang datang terlambat. Sebab cinta adalah ruh yang punya kehendak sendiri dimana dia mau hinggap dan dihati siapa dia mau bersemayam. Cinta selalu benar menurut versi dan pemahaman masing-masing. Tak akan ada yang mampu berdebat dengan cinta. Apalagi ber adu argumen dan mengalahkannya. Tidak mungkin. Cinta itu terlalu digjaya untuk ditundukkan. Dan aku mengakui itu. Aku yakin kau juga mengakuinya.

Berulangkali aku mencoba merenung dan memikirkan, apa masih ada yang bisa aku lakukan dari kesalahan dan kecerobohan ini selain penyesalan? Jika masih ada yang lainnya aku yakin itu adalah permintaan maaf. Berakhirnya hubungan kita adalah kekalahan sekaligus kemenangan kebenaran langkah kita. Bagiku kekalahan itu seharusnya tidak akan terlalu menyakitkan lagi. Karena itu adalah kehendakku. Kehendakmu. Kehendak kita. Dan sudah sepatutnya ku terima dengan lapang dada. Seharusnya begitu, tapi ternyata kali ini tidak. Kali ini kekalahan itu tetap saja terasa sakit. Kekasihku, kau juga merasakan sakit bukan? Dan hatiku mendengar suara hatimu yang bersuara lantang.  “Iya, iya benar…kita sama-sama merasakan sakit”.

Barangkali ini adalah babak terakhir dari kisah kita. Aku tak perlu bertanya apa yang kau rasakan. Sebab aku yakin kamu juga merasakan seperti aku. Bahkan yang kau rasakan pasti jauh lebih menyakitkan dari yang aku rasakan. Kamu yang selalu berjalan lurus tanpa berpaling, kamu yang selalu memegang teguh etika dan norma tiba-tiba kubawa berputar-putar mengikuti angin berhembus, kubawa naik turun mengikuti lereng dan tebing, kubawa bergulung-gulung melawan debur ombak, hingga pada akhirnya kita terjatuh di hamparan pasir berkerikil dan serpihan karang tajam. Maafkan aku, jika karena cinta telah membuat aku menjadi bodoh dan membawamu ke jurang penyesalan.

Happy Valentines Day (Cak Met)

Share Now:

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter