Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

menjaga hati

Pelajaran dari UEFA Euro 2020: Potensi Cedera Mental Pada Pemain Sepakbola

Sebagai seorang yang hobi berat nonton sepakbola, saya kok merasa sayang kalau sebuah turnamen besar berlalu begitu saja tanpa sempat mengambil pelajaran dari perhelatan event tersebut. Begitu juga dengan event UEFA Euro 2020 tahun lalu. Bukan pelajaran tentang daya juang, taktik ataupun strategi, soal ini biarlah dibahas oleh para ahli. Saya hanya ingin métani pelajaran, mencari sisi hikmah dari Euro 2020 tersebut.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kegagalan Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka dalam adu penalty melawan Italia di partai final. FYI bagi njenengan yang tidak suka sepakbola, mereka bertiga adalah pemain timnas Inggris yang gagal mencetak skor dalam adu penalti di partai final Euro 2020. Walhasil Italia yang berhak angkat tropi, and football is crying (bukan coming) home.

Bukayo Saka sangat terpukul dengan kegagalannya menendang penalti, ditenangkan oleh rekan-rekannya.

Suatu hal biasa saja sih sebenarnya. Sebab kegagalan dan keberhasilan, menang atau kalah dalam olahraga seperti 2 koin yang selalu hadir bersama. Yang tidak biasa adalah reaksi para suporter yang melakukan perundungan. Dan anehnya bukan fans Italia, melainkan hooligans The Three Lions, suporter mereka sendiri. Bahkan beberapa dari aksi bullying tersebut bersifat rasial. Tibake suporter Inggris juga ada yang bigot idiot ya..

Suporter semacam ini ndak paham saja apa yang dihadapi pemain. Mereka, para supporter bigot itu tidak (mau) tahu bahwa untuk bisa tampil 90 menit (atau bahkan lebih) di lapangan, para pemain harus latihan berpeluh keringat, mengorbankan banyak hal selama berbulan-bulan. Bahwa ada proses panjang dan berliku untuk sekedar memenangkan 1 pertandingan. Dadi suporter kok pingin penake (juara) tok. Mbok ya mencontoh suporter AS Roma kuwi, berabad-abad gak juara ya masih woles aja..

Perundungan oleh suporter semacam ini sangat berpotensi mencederai mental si pemain, yang ujungnya akan menurunkan performa mereka di atas lapangan. Karena tidak terlihat, cedera mental ini bisa berakibat lebih gawat dari cedera fisik lho. Apalagi bagi mereka yang tergolong pemain muda, Bukayo Saka bahkan masih belum genap 20 tahun.

Beberapa contoh cedera mental yang dialami pemain sepakbola

Pemakaman Robert Enke, salah seorang kiper top di Bundesliga

Contoh cedera mental ini bisa kita lihat pada Lucas Paqueta, dia pemain berbakat dengan skill yang mumpuni. Tapi dia mengalami kesulitan beradaptasi dengan pemain lain ketika masih bermain untuk AC Milan, karena perkara mental. Dia terbebani ekspektasi yang berlebihan untuk menjadi the next Kaka. Karena ekspektasi yang tidak kesampaian, ujung-ujungnya terjadi penghakiman dan perundungan oleh supporter.

Jika ingin melihat contoh yang lebih berat, tengok saja nama-nama berikut. Ada Robert Enke, kiper klub Hannover 96 yang bunuh diri karena depresi. Ada juga Gary Speed, legenda sepakbola Wales yang memilih mengakhiri hidupnya karena depresi juga. Masih banyak nama-nama lainnya, jika kita mau browsing di google. Mereka memilih mengakhiri hidup karena luka mental yang tak tersembuhkan.


Akan beda masalahnya jika perundungan tersebut menimpa pemain-pemain kawakan  bermental baja semacam Chiellini, Bonucci dan Ibrahimovic. Atau misalnya para bad boy legendaris semacam Eric Cantona, Roy Keane dan Rhino Gattuso. Saya haqqul yaqin jika ada suporter yang membully mereka pasti langsung diajak gelud.

Pelatih sebagai jaring pengaman bagi pemain yang sedang dibully

Gareth Southgate yang tetap membela para pemainnya yang gagal mengeksekusi penalti

Seingat saya, kasus perundungan terhadap pemain bola di tahun 1990an masih jarang sekali terjadi. Kalaupun toh ada masih dalam taraf yang ‘wajar’ dan tidak terlalu massif. Saya sebut wajar karena rundungan yang dilayangkan hanya terjadi di lapangan, ketika pemain sedang tampil flop atau underperform. Dan para pelatih di era tersebut mayoritas adalah coach generasi lawas yang tentu saja membela para pemainnya, seburuk apapun mereka bermain. Pelatih dengan tipe seperti itu sangat penting sebagi jaring pengaman bagi para pemain.


Beruntung Rashford, Sancho dan Saka memiliki jaring pengaman di sekitarnya. Jaring itu berupa dukungan moral dari keluarga dan teman-teman dekat mereka, serta terutama pelatih. Gareth Southgate dengan tegas mendukung pemain-pemain muda tersebut dengan mengatakan bahwa pelatihlah yang bertanggung jawab atas pemilihan (dan kegagalan) para penendang penalti.

Pelatih ya memang begitu seharusnya. Dia harus bisa menjadi pendukung pertama bagi pemain. Menjadi kawan pertama yang bisa diajak bicara oleh pemain. Dia juga mesti bisa mentolelir kesalahan-kesalahan pemain di lapangan. Toh sebaik apapun gameplan yang direncanakan, eksekutor di lapangan tetaplah para pemain. Pelatih mung bisa nyawang saka kadohan.

Bayangkan kalau pelatihnya cukup brengsek dan ikut-ikutan menjadi hakim, menyalahkan pemainnya (adakah pelatih semacam ini? Ada, you know who lah). Pemain salah umpan dipaido, salah kontrol diseneni, kleru tuku bumbu dicelathu (eh, nek iki urusan ning omah ding), apalagi gagal mencetak skor melalui eksekusi penalty,langsung dimusuhi. Jika ini yang terjadi, pemain tidak akan bisa berimprovisasi dan enjoying the game. Isa-isa malah dha bunuh diri, kendhat ning wit alpukat.
Bojomu pelatihmu apa ya ngene Lik?
***
Beruntung, sekali lagi beruntung, Rashford, Sancho dan Saka tidak (merasa) sendiri. Ada ‘jaring pengaman’ di sekitarnya yang bisa diajak bicara. Sebab kau tahu Lik? Kesepian yang paling membunuh bukanlah kesendirian secara fisik, melainkan ketika dia atau mereka yang seharusnya bisa kau ajak bicara justru menjadi hakim bagimu. 

Share Now:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter