Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

Mematahkan Mitos Kelas IPS sebagai Sarang Penyamun

Mematahkan Mitos Kelas IPS sebagai Sarang Penyamun

Kelas IPS Sebagai Sarang Penyamun

Saya lulus dari kelas IPS di Sabhatansa tahun 1998 dengan predikat yang bisa membuat orang tua saya tersenyum, alih-alih sebagai siswa penyamun seperti image anak IPS pada umumnya. Namun karier kesiswaan saya di tahun-tahun sebelumnya tidak selalu baik-baik saja, cenderung berliku dan penuh warna. Ya sempat termasuk golongan siswa pengacau juga sih.

Awal masuk di kelas 1 saya tergolong sebagai murid yang culun, ndak banyak ulah. Di mata beberapa teman, saya bahkan terlihat ngah-ngoh sehingga tidak terlalu terasa ‘kehadiran’nya. Maka mereka cukup terkejut ketika saya memproklamirkan kehadiran saya melalui nilai ulangan bahasa Inggris yang sempurna. Dari situ saya mulai bertransformasi. Mulai terlibat aktif dalam lingkar pertemanan di kelas, dan tentu saja mulai banyak tingkah, hehe..

Namun secara umum kelas 1 saya lalui dengan predikat sebagai anak ‘baik-baik’ saja. Nilai raport aman terkendali, selalu berada di 3 besar. Dan ini bukanlah pengakuan sepihak untuk menyembunyikan belang saya. Sebab belang yang sebenarnya baru muncul di kelas 2, dan menjadi noda yang layak untuk dikenang selamanya.

Kelas 2 saya jalani dengan personel yang sama persis dengan di kelas 1. Hal ini membuat lingkar pertemanan kami semakin akrab. Mereka yang suka bermusik ya gaulnya dengan sesama pemusik. Mereka yang terobsesi untuk menjadi anak baik-baik ya kumpul dengan yang baik-baik. Sedangkan saya ini serba gak jelas. Tidak terobsesi terhadap prestasi, zonder keahlian di bidang bakat & minat, dan bahkan cita-citapun belum sempat terpikirkan. Akhirnya ya bergotong-royong mendirikan geng yang gak jelas juga, dimana satu-satunya kejelasan dalam geng hanyalah kegemaran mangkir dari jam pelajaran.

Apesnya, justru geng tidak jelas ini yang auranya paling menonjol di kelas kami. Andai saja guru BK cukup selo untuk merilis daftar kelas paling ngaco, saya yakin kelas kami akan masuk peringkat 2 besar. Beberapa prestasi yang kami ukir ketika itu diantaranya adalah: berhasil membuat guru PKL menangis di kelas, sukses membuat beberapa guru beralih profesi menjadi penagih hutang LKS (ndang bayaren LKSmu rek), dan yang agak fenomenal adalah mencatatkan rekor 14 siswa bolos di hari yang sama (kecuali si Ambar, tentu saja). Mengenai detail perbolosan ini, sampeyan bisa baca di tulisan sebelumnya: https://ikasabhatansa.family/boloslah-sesekali/

Namun seacak-adutnya saya di kelas 2 (dengan nilai rapor yang medioker), ketika naik ke kelas 3 kok ya masih masuk daftar prioritas untuk masuk kelas IPA lho. Saya masih dipandang punya potensi untuk berprestasi di bidang akademik. Padahal berani sumpah demi kerang ajaib pujaan Spongebob dan Patrick, saya sungguh alergi dengan yang namanya rumus dan angka. Setiap habis ulangan matematika, fisika dan kimia, kepala langsung overheat,  perutpun ikutan melilit (ancene belum sarapan).

Maka ketika harus menentukan penjurusan di kelas 3 saya mantap memilih IPS. Dan dipanggillah saya oleh guru BK untuk dipersuasi agar memilih kelas IPA. Alasannya karena adanya stigma negatif bahwa anak-anak IPS itu pasti ngaco dan sulit diatur, dengan gelar yang cukup menggetarkan: kelas Sarang Penyamun. Waktu itu saya mbatin: “lho.. bukannya itu circle gue banget, hahaha..” Tapi ya cukup saya batin saja, tidak sampai terucap keluar dari kerongkongan.

Singkat cerita, bujukan guru BK maupun Wali Kelas 2 tidak mempan. Dan sebulan pertama berstatus anak IPS-1 membuktikan kebenaran stigma negatif tersebut. Bukan bermaksud mendiskreditkan teman-teman sekelas saya lho ya. Lha wong pada awalnya saya mempunyai cita-cita luhur untuk turut melanggengkan citra buruk tersebut kok. Ups.. pangapunten ingkang agung nggih Bu Khom.. sungkem wolak-walik.

Namun ada satu peristiwa yang saya (berlagak) lupa detailnya, yang menjadi turning point bagi saya. Intinya Bu Khom ketika itu berhasil menggelitik deep inside my heart, memberi enlightment untuk berupaya menghapus stigma buruk anak IPS sebagai kelasnya para pengacau. Beliau berhasil menemukan tombol pacu dalam diri saya untuk mengejar prestasi, sekaligus memberi bukti bahwa kelas IPS tidaklah seburuk itu. Ini juga menjadi bukti bahwa beliau adalah guru BK yang luar biasa dan mumpuni.

Apakah selesai sampai di sini? Begitu tercerahkan langsung bisa berprestasi begitu? Ya ndak lah.. tidak semudah itu Ferguso, kisah sebenarnya tidak segampang cerita-cerita teenlit atau sinetron FTV. Butuh pergulatan sepanjang tahun untuk bekerja, eh belajar keras. Butuh 2 semester penuh perjuangan untuk tampil sebagai anak baik-baik. Dan terutama yang paling berat, butuh tekad ekstra kuat selama 365 hari untuk menampik godaan Balekambang, Karangkates, Payung, dll (ngerti kan maksudku? Bolos Lik). Intinya, Kota Roma tidak dibangun dalam semalam Om.

Semester pertama di kelas 3 berhasil terlampaui dengan cukup baik. Urusan akademik berhasil kembali ke khittah di kisaran 3 besar. Beberapa lomba di bidang bahasa Inggris juga sempat tersabet. Dan yang lebih asyik, di kelas IPS inilah saya berhasil menemukan passion menulis. Beberapa puisi saya berhasil naik tayang di koran lokal Malang. Ketika itu gayaku sudah kayak Chairil Anwar ae rek.

Personel Kelas IPS Sabhatansa

Beranjak ke semester 2, tantangan yang sebenarnya telah menanti. Ada ajang pembuktian bagi misi besar kami untuk tidak lagi menjadi kelas sarang penyamun. Ajang tersebut bernama EBTANAS. Bagi generasi yang mengalami ujian nasional tersebut pasti merasakan betapa stressnya menghadapi ujian akhir. Segala proses pembelajaran sejak kelas 1 seperti menemukan titik kulminasi di ajang ini. Bagi siswa pada umumnya, EBTANAS adalah penentuan antara lulus dan tidak lulus. Namun bagi saya pribadi, ini adalah pembuktian to be or not to be penyamun.

Dan perjalanan menuju ujian akhir sungguh tidak mudah. Sekira 5 minggu minggu menjelang EBTANAS, Bapak asuh saya seda. Hingga saya harus menjalani hari pertama ujian setelah begadang untuk tahlil 40 harinya Bapak. Namun Puji Gusti, semua berhasil terlampaui. Pengumuman hasil ujian menampilkan nama yang hanya terdiri dari 4 huruf di urutan paling atas, lintas jurusan. Jelas itu nama saya, lain tidak. Dan ternyata tidak hanya di lingkup sekolah, capaian NEM saya masuk 10 besar tingkat kota. Mission accomplished, mitos kelas IPS sebagai sarang penyamun (untuk sementara) berhasil dipatahkan.

Ditulis oleh: Rois Pakne Sekar, alumni Sabhatansa lulusan 98

Kepala Sekolah SD Mafaza Integrated Smart School Malang

Share Now:

12 Responses

  1. Aiiih, saya juga termasuk “korps” IPS, kalau Om Rois bermodal academic, wah saya bermodal “ciat..ciat….ciaaaat”. Mungkin itu sebabnya guru BK “tatag” melepaskan saya ke “kelas sarang penyamun” ?

  2. Hhhhmmmm…, endingnya apik. Iki mesti tak luput dari doa dan tirakat ibu. Jadi jangan pernah lupa utk mengirim doa untuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter