Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

Madik Wis Ora Lara, Sebuah Obituari

Potret diri Dwi Madik Kustiawan, digambar oleh Naning Riwayati
Potret diri Dwi Madik Kustiawan, digambar oleh Naning Riwayati

Senja yang muram di akhir Desember

Sepotong cracker,

Sebungkus sigaret berhias peringatan hipokrit

tentang kematian dan penyakit segala rupa

Juga secangkir kopi tanpa gula

“Kopi hitam terbaik

sungguh tak pantas dinikmati sendiri

di sore semurung ini”

sapamu ketika itu, dengan sebuah tepukan di bahu

“Usah risau, sesendok gula aren patut dicoba

biar menjadi paduan yang sempurna

Hidup – begitu pula mati–  tidaklah sepahit itu Bung” tambahmu

Kini kau telah membuktikan,

Sedang aku masih menunggu..

Setiap orang pasti pernah mendengar kabar lelayu dari sanak saudaranya. Dan reaksi masing-masing orang tentu berbeda. Yang paling umum tentu saja turut berbelasungkawa. Namun ada juga yang bereaksi biasa-biasa saja, menganggap berita duka -dan kematian- sebagai hal yang lumrah. Saya dan Madik termasuk golongan yang menganggap berita duka sebagai hal yang biasa dan niscaya ada dalam hidup. Masalahnya hanya kapan dan bagaimana (berita) kematian tersebut datang menghampiri kita.

***

Awal mula saya mengenalnya adalah di kelas 1.2 Sabhatansa tahun 1995. Bersama-sama sejak kelas 1 sampai kelas 2 membuat kami sangat akrab. Tak hanya sekedar di sekolah, di luar sekolahpun kami sering mblakrak bareng-bareng. Ya, kami termasuk golongan siswa yang gemar absen sekolah tanpa keterangan, bersama dengan (saya samarkan namanya demi nama baik mereka) Seno, Betet, Buntar, Anas, Dadang, Isa, Topik, Wenang, Herwan, dll.

Hal paling epic yang membekas di ingatan saya adalah ketika kami sering bolos sekolah rame-rame. Destinasinya tidak main-main, ke rumah Mbahnya Madik di Kalipare. Jaraknya sekira 45 km dari SMAN 7 Malang. Bukan hanya soal jarak yang membuat acara ini berkesan, melainkan prosesnya. Mangkir sekolah berjamaah ini selalu atas restu orang tuanya (kaya ate rabi ae rek). Bukan sekedar restu, plus masih diberi uang saku. Seratus ribu di tahun 1996 adalah jumlah yang sangat cukup untuk membuat kenyang 10 orang, kecuali perut si Topik yang kayak juglangan.

Keakraban yang terbentuk di masa-masa sekolah tersebut tetap terbawa hingga kami kuliah, dan tetap terjalin sampai kami tumbuh dewasa. Meskipun beberapa dari anggota geng harus pindah domisili di luar Malang, jalinan persahabatan tersebut tetap terjaga. Khusus dengan Madik dan beberapa kawan lain yang stay di Malang, persahabatan telah menjelma saudara.

***

Dari persaudaraan tersebut kami jadi tahu pribadi masing-masing. Di mata saya, hal yang paling menonjol darinya adalah kepedulian kepada sesama, sifat loman yang kebangetan, dan tentu saja badannya yang paling bongsor diantara teman-teman sekelas. Tentang badannya yang bongsor ini menjadi semacam kerugian baginya. Bagaimana tidak, guru-guru akan dengan mudah hafal terhadapnya. Ujung-ujungnya dia sering ditunjuk untuk mengerjakan PR di papan tulis.

Lebih ‘dalam’ dari hal-hal tersebut, di mata saya dia memiliki pandangan yang unik terhadap kehidupan. Dia memaknai hidup dan mati tak lebih dari sebuah perjalanan, yang mau tidak mau pasti akan kita jalani juga. Saya menjadi saksi bagaimana dia bersikap wajar saja ketika kehilangan Bapak dan kakak mbarepnya. Bukan berarti tidak sedih, sama sekali bukan. Sedih ya pasti, namun dia mengelola kesedihan tersebut dengan sak madya, secukupnya dan sewajarnya saja.

Dia juga bersikap biasa-biasa saja ketika suatu malam sekira 2 tahun lalu njagong sambil ngopi di rumah saya, dia menunjukkan sebuah lobang di sisi kiri perutnya kepada saya sambil ngomong: “aku duwe lobang anyar, gawe cuci darah”; enteng saja, tanpa perubahan air muka. Justru saya yang shock, sampe bengong untuk beberapa saat. Ndak tahu mesti bilang apa. Bagi saya, cuci darah (artinya gagal ginjal) sudah seperti vonis bahwa uripmu mung gari semene tahun. Lha vonis yang semacam itu kok dianggapnya wajar saja.

Beberapa bulan berikutnya kondisi fisiknya mulai menurun sehingga tidak bisa ngluyur lagi. Jadi saya dan beberapa teman lain yang gantian mengunjunginya, sekedar untuk njagong, ngopi dan udut. Dia juga masih udut sih, padahal seharusnya ndak boleh. Kadang saya berkunjung sambil ngajak Bebe anak saya yang batita, biar dia ikut senang melihat tingkahnya yang mleletnya ngaudubillah itu.

Sekira 4 bulan terakhir penurunan kondisinya terbilang parah. Berat Badan yang turun drastis, kemampuan gerak yang terbatas, dan terakhir sampai anfal (kehilangan kesadaran) karena penyumbatan darah di otak. Sungguh saya ndak tega melihat kondisinya seperti itu. Sampai kapan dia harus struggling dengan kondisi fisik seperti itu? Jujur, saya terbayang kematian kakaknya beberapa tahun yang lalu.

***

Madik, teman berasa saudara itu telah pergi.
Madik, teman berasa saudara itu telah pergi.

Hingga akhirnya kabar itu datang juga. Tanggal 14 agustus 2022 dinihari adiknya menelpon saya sambil menangis, dengan ucapan yang tidak begitu jelas. Saya juga tidak perlu mendengar ucapannya dengan detail untuk tahu. Bahwa dia, Madik, teman berasa saudara itu telah pergi. Baginya sih mungkin bukan pergi, hanya melanjutkan perjalanan ke multiverse lain saja.

Saya sendiri ndak tahu mesti bersikap bagaimana, antara duka dan bahagia. Berduka karena kehilangan seorang teman. Tapi juga bahagia merga dekne wis ora lara, dia sudah tidak sakit. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa dia selalu menganggap kematian sebagai hal yang wajar. Untuk itulah saya ikut berbahagia, bahwa dia sudah selangkah di depan saya dalam melakoni ‘perjalanan’ ini.

Namun hari ini ketika bertemu Ibu dan adiknya, air mata saya tidak bisa mengingkari. Ia menggenang di sudut mata, ketika hati mendaraskan sebait asmaradana klangenannya semasa sinau macapat di STMJ SBT SEKOLAH BUDAYA TUNGGULWULUNG  dulu:

Amiwiti amungkasi,

menenge napas winastan,

jasade tumekeng layon,

ya ing kono ing kamuksan,

lamun wus nginum rasa,

rasaning ngelmu linuhung,

sayekti nemu sarkara.

-wedhapurwaka IX:28

Murud ing kasidhan jati, Dwi M Kustiawan. Mugi ginanjar swarga mulya. Syai’un lillahil fatihah.

Malang, 15 Agustus 2022.

Ditulis oleh:

Rois Pakne Sekar, alumni Sabhatansa lulusan tahun 1998.

Kepala Sekolah SD Mafaza Integrated Smart School Malang.

Share Now:

2 Responses

  1. Turut berduka Cak. Hidup dan mati adalah kepastian. Semoga kita semua diberikan hidup dengan amal yg mulia sebagai bekal hari kemudian. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter