Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

ACM – Alumni Cerdas Mengajar SMAN 7 Malang

Lead Your Self

Pimpinlah dirimu sendiri adalah cara yang menggembirakan dalam menjalani kehidupan dan mencapai impianmu.

Setiap dari Kita pasti mengharapkan menjalani kehidupan ini dengan perasaan bahagia. Merasa senang, merasa gembira merasa nyaman dan aman adalah kebutuhan dasar setiap manusia.

Tetapi sayangnya tidak semua dari kita dengan mudah mendapatkan kebahagian tersebut. Banyak hal-hal sepele bahkan berpele-pele yang merenggut waktu bahagia kita:  kondisi fisik yang tidak sebening artis2 korea, teman yang resek, tugas sekolah yang menumpuk dan harus segera diselesaikan tetapi kecerdasan tidak bisa diajak kompromi, lalat yang nempel di ice cream kita-padahal baru jilatan pertama. Stress mikir setelah lulus sekolah mau lanjut studi kemana. Hujan di malam minggu saat kita sudah janjian di acara outdoor.

Stop bersedihnya, mari kita bahas, sebenarnya kita ini tahu nggak sih apa itu bahagia?

Coba tanya diri sendiri dengan kejujuran yang terjujur:

Kapan kita bahagia? Atau kapan terkahir kali kita merasa bahagia? Apakah saat ketemu teman/pacar hari sabtu kemarin? Apakah saat menerima hadiah saat ulang tahun bulan lalu? Atau saat mendapat nilai 100 pada ulangan matematika kemarin?

Pertanyaan berikutnya, Siapa yang membuat kita bahagia? Teman? Orang tua? Guru? Pacar? Mungkinkah tidak ada siapapun yang bisa membuat kita bahagia? Bagaimana dengan diri kita sendiri?

Selanjutnya, apa yang membuat ada bahagia? Coba tulis sebanyak-banyaknya:

Saya bahagia jika  ………………………….

Note: jangan lanjutkan membaca jika ada belum menuliskan apapun

Semakin banyak yang bisa kita tuliskan apa yang membuat ada bahagia, maka kemungkinan kita untuk berbahagia semakin banyak.

Kegagalan untuk berbahagian biasanya terjadi karena tidak sesuainya antara HARAPAN dan KENYATAAN, bahkan sering bertentangan antara harapan dan kenyataan. 

Kita berharap langit cerah ternyata malah hujan. Kita berharap juara satu tetapi apa daya hanya berhasil juara harapan. Kita berharap dapat makan steak apa daya uang hanya cukup untuk makan indomie. Kita ingin orang tua yang pengertian, sabar baik hati dan kasih uang saku berlebih, apa daya nasib berkata lain.

Trus piye?

Mari kita berkenalan dengan konsep PROAKTIF lawannya REAKTIF.

PROAKTIF

adalah kebebasan kita untuk menentukan respon apa yang kita lakukan terhadap stimulus yang kita terima, untuk segala hal yang tidak menyenangkan maupun menyenangkan sekalipun.

Kita berhenti sejenak untuk berfikir, untuk menetapkan reaksi kita berdasarkan kata hati kita, norma/aturan/ agama yang kita yakini, imajinasi kita, logika kita. Apakah reaksi kita aka berdampak positif? Apakah reaksi kita selaras dan tidak bertentangan dengan norma/aturan/agama kita? Apakah reaksi kita akan menyelesaikan masalah atau bahkan menambah masalah?

Kita perlu proaktif agar tidak menyesal atas tindakan kita sebagai respon stimulus yang kita terima.

Dengan proaktif, kita akan menjadi pribadi yang solutif dan menyenangkan. Orang proaktif bukan berarti tidak bisa marah, marah hanya jika memang diperlukan setelah mempertimbangkan beberapa aspek, marah tidak secara emosional tetapi terkendali.

Dengan proaktif kita akan jadi lebih flexible dalam segala kondisi. Beda dengan orang yang reaktif akan cenderung kasar, keras dan mudah marah, jauh dari perasaan bahagia.

Sebelumnya lanjut, yuk kita kenalan dengan kalimat aktif dan kalimat pasif, kalimat aktif adalah kalimat yang menempatkan kita sebagai subjek/pelaku sedangkan kalimat pasif adalah kalimat yang menempatkan kita sebagai obyek

Contoh2 kalimat pasif: “ Saya bahagia jika mendapat gaji”; “ Saya bahagia jika mendapat nilai 100”

Contoh2 kalimat aktif: “ Saya bahagia jika mengajari temanku, “ Saya bahagia jika memancing ikan”

Sekarang coba baca kembali daftar yang telah kita buat tentang apa yang membuat kita bahagia!

Berapa banyak yang aktif dan berapa yang pasif, jika yang aktif lebih banyak maka anda adalah orang yang mempunyai potensi berbahagia. Tetapi jika lebih banyak yang pasif, maka anda harus siap lebih sering kecewa jika harapan anda berbeda dengan kenyataan. Bukankan orang yang aktif lebih berpotensi mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari pada orang yang pasif?

Ternyata banyak aktifitas harian kita yang menempatkan kita dalam posisi aktif, tetapi kenapa kok gak ada rasa bahagia?

Seorang orang tua yang merasa berat mencari nafkah demi keluarganya, Seorang pelajar yang merasa berat dan lelah belajar. Seorang tukang sapu jalanan yang terkulai lemas memandangi banyaknya sampah yang harus dia bersihkan. Bahkan seorang guru pun ada yang tidak bahagia ketika mengajar.

Kenapa ya?

Mulai dari tujuan akhir.

Dalam segala aktifitas kita, kita harus tahu tujuan aktifitas yang kita lakukan, kebanyak dari kita melaksanakan rutinitas tanpa tujuan pribadi yang jelas.

Menetapkan atau menemukan  tujuan akhir dari setiap aktifitas kita sangat mempengaruhi tingkatan motivasi kita. Semakin jauh/tinggi tujuan kita maka daya lenting motivasi kita juga semakin kuat. Inilah yang disebut motivasi diri. Kita melakukan sesuatu karena kemauan kita sendiri bukan karena orang lain.

Ketika kita menemukan tujuan akhir kita, maka kita akan mendapatkan dua kebahagian sekaligus, yaitu saat menjalankan aktifitas tersebut dan saat tujuan itu tercapai.

Jika anda diminta memilih pernyataan berikut, anda pilih yang mana?

“Saya bahagia jika mendapat uang 1 juta”

“Saya bahagia jika memberi uang 1 juta”

Ada dua tujuan akhir yang berbeda dari kedua kalimat tersebut:

  1. Pasif: mendapatkan uang 1 juta, kemungkinan terjadi: tidak tahu bahkan nol
  2. Aktif: memberi uang 1 juta, kemungkinan terjadi: sangat mungkin

Pada kalimat aktif kedua, seolah-olah kita akan kehilangan uang 1 juta, wait tunggu dulu, mari kita bahas:

Apakah anda tahu syarat memberi? Syarat memberi adalah memiliki. Jadi kita tidak akan mampu memberi jika tidak memiliki, betulkan?

Orang yang bahagia jika memberi, maka dia akanlebih termotivasi untuk mencari kekayaan agar mampu memberi. Berapa uang yang akan dimiliki? Dalam agama Islam kita kenal konsep zakat 2.5% (dalam agama lain bisa lebih), jadi jika kita ingin memberi 1 juta maka uang kita insya Allah dimampukan untuk memiliki adalah 1/2.5% juta = 40 juta (bahkan bisa lebih) Wow!

Jika kita senang menolong orang, maka kita akan dimampukan untuk menolong orang, diberi kesehatan, kecukupan dan kesempatan yang lebih baik.

Jadi temukan tujuan akhir dari setiap aktifitas kita.Tetapkan tujuan akhir dari apa yang akan kita lakukan.

Tujuan akhir tidak hanya berhenti dikehidupan dunia sekarang tetapi bisa anda tarik sampai diakhirat nanti.

Seorang penyapu jalanan akan senang menyapu jika dia mengetahui bahwa jalan yang bersih akan lebih nyaman sehingga orang yang lewat jadi senang dan sehat, selanjutnya menjadikan menyapu adalah amalan kebaikannya yang insya Allah akan diberikan balasan baik dunia (gaji) dan akhirat (pahala).

Bagaimana dengan anda sebagai seorang pelajar? Silahkan anda tetapkan tujuan akhir anda, bayangkan anda ingin bekerja sebagai profesi apa? Anda ingin kuliah di mana.

Apakah kita mungkin membuat banyak tujuan akhir? Ya, memungkinkan, asal seluruh tujuan tersebut searah atau tidak saling bertentangan. Tujuan bisa juga kita buat seperti urutan. Tujuan jangka panjang bisa juga kita pecah-pecah menjadi frakmen jangka pendek yang berurutan.

Setelah kita tahu dan menetapkan tujuan akhir kita, maka dalam prosesnya akan banyak sekali gangguan dan godaan yang akan datang. Lingkungan kita juga berubah, kondisi politik, ekonomi bahkan teman-teman kita juga berubah.

Agar kita tetap focus dan efektif serta bahagia dalam menjalani proses mencapai tujuan akhir kita, maka fokuslah pada Lingkaran pengaruh kita.

Ada dua  Lingkaran Kapasitas kita: Lingkaran terdalam adalah Lingkaran Pengaruh dan Lingkaran terluar adalah Lingkaran Peduli.

Lingkaran pengaruh adalah segala sesuatu yang kita pedulikan dan bisa kita pengaruhi, bisa kita ubah, bisa kita perbaiki dan juga bisa kita sempurnakan.

Lingkaran Peduli adalah segala sesuatu yang kita pedulikan tetapi kita tidak punya kuasa untuk mempengaruhinya.

Sebagai contoh apa saja yang masuk dalam Lingkaran pengaruh kita:

  1. Seorang ayah bisa mempunyai pengaruh pada anak dan istrinya, bahkan pada tetangga satu RT bahkan sampai RW jika kebetulan sebagai pengurus RT/RW.
  2. Seorang pelajar bisa mempunyai pengaruh pada teman sekelasnya, atau sampai sekolahnya jika ia menjadi pengurus OSIS atau kegiatan sekolah.
  3. Seorang presiden mempunyai Lingkaran pengaruh ke seluruh rakyat yang dipimpinnya yang lebih besar dari pada seorang gubernur, walikota apalagi rakyat biasa.

Semakin banyak yang bisa kita pengaruhi, maka semakin membesar Lingkaran pengaruh kita.

Lingkaran pengaruh yang paling kecil adalah pengaruh pada diri sendiri, namun sayangnya ini sering terabaikan. Berapa banyak orang yang peduli akan kesehatan pribadi tetapi berapa banyak yang tidak melakukan apapun untuk dirinya agar tetap sehat bahkan bergaya hidup yang tidak sehat.

Bahkan banyak orang yang membiarkan dirinya ditentukan oleh orang lain, tergantung pada orang lain karena tidak berani bertanggungjawab terhadap diri sendir. JIka ada keinginan yang tidak tercapai yang disalahkan orang tuanya, temannya, lingkungannya. Lupa bahwa kita bertanggungjawab dan berhak terhadap diri kita sendiri.

Untuk ini mari kita focus dulu pada Lingkaran pengaruh terkecil kita yaitu diri sendiri, mau dibuat seperti apa diri kita dan apa yang akan kita lakukan agar kita menjadi apa yang kita mau.

Orang yang banyak focus pada Lingkaran peduli akan lebih banyak stress dan galau dan jauh dari hidup bahagia. Stress memikirkan keadaan ekonomi dan politik negara yang tidak sesuai dengan harapannya. Stress memikirkan “Layangan Putus” dan drakor yang berada diluar dunianya. Stress membaca berita2 dan tayangan negative yang menjadikan kita memandang dunia ini semakin buruk. Yang membuat kita stress dari semua hal dalam lingkungan peduli adalah karena kita tidak ada kemampuan untuk meperbaikinya/mempengaruhinya.

Ada kalanya beberapa Lingkaran peduli akan masuk dalam Lingkaran pengaruh kita. Contohnya kondisi politik di negara kita, kita punya kesempatan mempengaruhi 5 tahun sekali saat pemilu. Jadi manfaatkan momen tersebut sebaiknya, karena setelah itu mungkin kita tidak bisa merubahnya, selain menghujat di media social.

Ajaibnya, ketika kita focus bertindak untuk orang-orang yang berada dilingkaran pengaruh kita, maka Lingkaran pengaruh kita akan semakin membesar, yang berate semakin banyak orang yang bisa kita pengaruhi.

Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, orang lain tidak lagi menjadi beban kita tetapi bahkan bisa saling menguatkan dan mendukung. Anak tidak lagi jadi beban orang tua, tetapi menjadi komponen penting dalam keluarga yang dapat membantu aktifitas keluarga bahkan membantu untuk mendapatkan rezki. Kasih sayang akan tumbuh semakin subur pada keluarga yang setiap anggota keluarganya saling membantu dan saling ketergantungan. Betapa bahagianya kita.

Pernahkah anda mendapat tugas yang harus dikumpulkan besok tetapi baru anda kerjakan malam ini? Stress bukan? Anda akan berharap memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas anda. Banyak pekerjaan atau tugas yang sederhana yang gagal diselesaikan karena tidak cukup punya waktu.

Bahkan beberapa dari kita suka menunda-nunda pekerjaan yang akhirnya merubah pekerjaan yang tidak mendesak menjadi mendesak. Kebiasaan ini berbahaya karena akan terbawa sampai nanti jika kita tidak segera merubahnya.

Untuk itulah kita harus menetapkan tujuan akhir kita pada kurun waktu tertentu agar kita punya waktu tanpa stress untuk melakukannya.

Ada orang yang mencari nafkah hari ini untuk dimakan hari ini, bisa dibayangkan betapa stressnya, ada ketakutan jika tidak dapat rezki atau tidak cukup, ada ketakutan dimarahi/keluh kesah istri dan ketakutan yang lain. Mau alih profesi seolah sudah tak ada waktu lagi untuk belajar. Bahkan sholatpun sudah ditingggalkan karena seolah gak ada waktu lagi baginya. Sedih ya?

Bagaimana jika kita rencanakan kehidupan masa depan kita mulai hari ini, mulai saat kita belajar disekolah: mau lulus dengan prestasi apa? kuliah di mana? Ketrampilan apa yang harus kita pelajari? Mau kerja apa dan di mana? Menikah kapan? Beli rumah seperti apa? Beli mobil apa? Naik haji kapan?

Mumpung anda masih punya waktu, kurangi aktifitas yang tidak penting apalagi tidak mendesak menjadi sesedikit mungkin. Aktifitas penting dan mendesak wajib kita lakukan.

Selalu alokasikan waktu anda lebih banyak pada aktifitas yang penting dan tidak mendesak.

Jika kita lakukan ini menadi kebiasaan kita maka aktifitas penting dan mendesak akan semakin berkurang. Hidup jadi tenang dan bahagia, maukan?!

Saat menjalani semu proses kegiatan kita lakukan dengan sabar, cobaan yang ada akan menjadi penguat keteguhan niat kita, bahkan beberapa cobaan datang akan memberikan inspirasi untuk memperbaiki cara kita mencapai tujuan kita. Jangan sampai kita gagal menemukan intan yang tertanam karena kita tidak sabar melakukan prosesnya, padahal tinggal satu ayunan cangkul maka intan tersebut akan kita temukan. Tetap optimislah dalam kebaikan.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, selalu ikhlaslah dala berbuat kebaikan baik memberi bantuan berupa materi, tenaga maupun pikiran. Keikhlasan kita akan menumbuhkan rasa senang di hati kita dan juga pada orang yang kita bantu.

Pandai pandailah kita bersyukur terhadap apa yang kita miliki, mensyukuri raga yang sehat, jiwa yang tenang, memiliki orang tua saudara dan teman yang baik. Mensyukuri kesempatan yang kita punya. Mensyukuri rezki yang kita miliki. Bersyukurlah kepada yang Allah, insya Allah akanditambah nikmat kita. Dan selalu berterima kasih lah pada orang-orang yang membantu dan mendukung kita.

Semoga kita menjadi manusia yang mandiri dalam memimpin diri sendiri untuk: menentukan tujuan hidup kita; menentukan tindakan kita; menentukan suasana hati kita dan menentukan pikiran kita.

Be happy J

Terima kasih

Nanang Minarto

Referensi:

Pengalaman hidup pribadi dan keyakinan penulis

7 Habits of Highly Effective People; Stephen R. Covey

Share Now:

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter