Ikasabhatansa Blog

Kumpulan konten berupa artikel, foto, video baik tentang informasi umum maupun kegiatan Ikasabhatansa

3 ANGKATAN SESEPUH  SMAN 7 MALANG, TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Tulisan ini saya buat agar siswa SMAN 7 generasi milenial mengenal lebih dekat siswa generasi awal. Dengan harapan setelah mengenal maka akan timbul rasa sayang dan rasa kekeluargaan terhadap sesama alumni. Sedih sekali rasanya ketika ada momen reuni akbar banyak generasi milenial yang tidak hadir dengan alasan sahabatnya tidak hadir, teman sekelasnya gak ada atau angkatannya bikin reuni sendiri. Lebih sedih lagi ketika menolak bergabung menjadi pengurus Ikatan Alumni Sabhatansa (IKA SABHATANSA) hanya karena merasa banyak yang tidak kenal atau beralasan selisih umur yang terlalu jauh dan lain sebagainya.

Ibarat musik, tulisan saya ini adalah intronya, nada-nada awalnya. Saya berharap setelah membaca tulisan saya ini, makin banyak alumni yang tergerak hatinya untuk mencintai dan mengibarkan bendera SABHATANSA.

SMA Negeri 7 Malang terletak di jalan Cengger Ayam I/14 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Lokasinya sangat strategis karena berada di nol jalan sehingga mudah dijangkau. Disamping itu SMAN 7 Malang juga dekat dengan berbagai macam sarana olah raga. Disebelah timur terdapat lapangan sepak bola, di sebelah baratnya terdapat lapangan basket. Sedangkan di dalam sekolahan sendiri juga terdapat Gelanggang Olah Raga yang bisa difungsikan sebagai lapangan basket, volley maupun olah raga lainnya. Tentunya kondisi SMAN 7 Malang tidak serta merta indah seperti yang kita lihat sekarang ini. Bagi pendidik dan siswa generasi awal saat itu terasa berat, untuk mrenjadi seperti sekarang ini butuh proses dan perjuangan yang panjang.

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Pada awalnya berdirinya SMA Negeri 7 Malang bernama “Sekolah Penunjang” artinya fasilitas awal disiapkan oleh Pemerintah Daerah Malang, sedangkan Dinas Pendidikan Nasional menyiapkan personilnya. SMA Negeri 7 Malang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan SMAN 4 Malang. Ibaratnya secara historis SMAN 7 adalah adiknya SMAN 4. Hal itu dikarenakan angkatan pertama yaitu siswa yang masuk tahun 1982 ketika kelas satu masih “nunut” di SMAN 4 Malang. Angkatan pertama terdiri dari 3 kelas. 1 kelas jurusan IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Mereka benar-benar membaur dengan siswa SMAN 4 walaupun secara pembagian kelas mereka berbeda. Kepala Sekolahnya waktu itu juga masih dirangkap oleh Drs. Sukotjo Kepala SMAN 4 Malang saat itu.

Angkatan ke dua atau siswa yang masuk tahun 1983. Mereka menempati SMAN 4 hanya saat pengenalan (ploncoan) saja, selanjutnya terhitung sejak tanggal 18 juli 1983 proses belajar mengajar dilakukan di gedung baru yang berlokasi di Jalan Kendalsari 20 (sekarang jalan Cengger Ayam I/14). Saat itu kita sudah punya kepala sekolah sendiri, beliau adalah Pak Suyono. Seperti halnya angkatan pertama, angkatan ke 2 juga masih terdiri dari 3 kelas. 1 kelas jurusan IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Walaupun jumlah siswa sedikit tapi struktur organisasi siswa sudah tertata. Ketua OSIS waktu itu adalah Diskanto, sekarang beliau berprofesi sebagai marinir. Sudah ada juga siswa yang mengurusi kegiatan keagamaan. Namanya Sugianto beliau sekarang berwiraswasta.

Saat itu sarana dan prasarana belajarnya masih terdiri atas 3 ruang kelas, 2 unit toilet, 1 rumah dinas kepala sekolah, dan 1 ruang guru. Bangunannya juga masih sederhana, lantainya masih memakai tegel abu-abu. Disekeliling sekolah masih jarang rumah. Sejauh mata memandang hanya terhampar sawah dan kebun warga sekitar. Belum ada sarana olah raga. Kalau mau sepak bola harus ke Lapangan Tembalangan. Olah raga lainnya adalah volley, itupun dengan vasilitas yang masih sangat sederhana. Karenahanya memiliki 3 ruangn kelas maka siswa kelas 2 masuk pagi sedangkan siswa kelas 1 masuk siang. Tak jarang jika musim hujan ruang kelas kedatangan tamu-tamu tak diundang macam, katak, kadal bahkan ular. Kegiatan ekstra kurikuler favoritnya adalah berkebun. Pemandangan unik lainnya ketika musim hujan adalah siswa laki-lakinya pulang sekolah hanya memakai celana pendek. Seragam dan sepatu mereka masukkan ke dalam tas. Ajaibnya suasana seperti itu malah menjadikan mereka kompak karena merasa senasib seperjuangan.

Kebanyakan siswa sat itu berangkat dan pulang sekolah jalan kaki atau naik sepeda onthel. Hanya beberapa saja yang punya sepeda motor. Biasanya yang punya motor adalah mereka yang rumahnya jauh dari sekolah. Siswa datang terlambat seolah sudah menjadi rutinitas yang lumrah. Guru-gurupun memaklumi kondisi itu. Ada kejadian unik, seorang siswa yang berangkat sekolah naik motor, pulangnya lupa bawa motornya. Dia asyik saja jalan kaki ramai-ramai. Sesampainya dirumah dia baru ingat kalau motornya tertinggal di sekolah. Alhasil dia harus balik lagi kesekolah, padahal rumahnya di Ciwulan. Sebuah jarak yang cukup jauh. Apalagi belum ada angkot. Terpaksa jalan kaki.

Tidak cuma siswa saja yang berangkat pulang ke sekolah jalan kaki, beberapa orang gurupun demikian. Ada guru yang kos di Kedawung pulang pergi jalan kaki. Terkadang ada juga yang naik becak atau dibonceng oleh siswa. Hubungan antara guru dan murid saat itu cukup akrab, layaknya saudara. Saking akrabnya tak jarang guyonan siswa terlihat agak ngawur cenderung kurang ajar. Pernah suatu ketika ada seorang guru perempuan yang menangis karena di bully oleh beberapa beberapa siswa laki-laki. Sambil sesenggukan guru yang masih berusia sekitar duapuluh lima tahun yang sebelumnya mengajar di SMAN 4 itu berkata bahwa untuk mengajar di SMAN 7 Malang dia harus tekor, sebab gaji yang diterima tidak cukup untuk sekedar transport saja karena statusnya belum PNS. Terlihat sekali beliau sangat kecewa karena pengorbanannya tidak dihargai oleh para siswa.

Mungkin guru BP adalah guru yang paling berat tugasnya, sebab setiap hari ada saja siswa nakal yang harus dipanggil ke ruangan BP untuk mendapatkan bimbingan dan konseling. Bahkan ada beberapa siswa yang sengaja berbuat kesalahan hanya supaya bisa dipanggil oleh guru BP. Bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan para guru saat itu.

Untuk angkatan ke 3 yaitu siswa yang masuk tahun 1987 mulai ada peningkatan. Ruang kelas menjadi 6 ruang, juga ada tambahan musholla, ruang tata usaha dan laboratorium. Peralatan laboratoriumnya saat itu masih sangat sederhana, hanya ada beberapa alat peraga biologi dan kertas lakmus yaitu alat pembeda tingkat keasaman suatu benda. Sedangkan mikroskop one for all alias satu untuk semua. Untuk sarana olah raga dan toilet siswa walaupun jumlah siswa sudah dua kali lipat dari tahun sebelumnya masih belum ada tambahan. Sering sekali terlihat antrian siswa yang ke toilet pada saat jam istirahat. Apalagi saat ada siswa yang baru selesai pealajaran olah raga dipastikan terjadi antrian yang cukup panjang. Akibatnya beberapa siswa memilih untuk tidak ikut pelajaran berikutnya karena sudah terlambat cukup lama. Ada juga guru yang cukup disiplin, saat waktu sudah memasuki mata pelajaran yang beliau ajarkan, ruang kelas malah dikunci dari dalam. Pernah ada kejadian suatu ketika setelah sepak bola, karena lapangan becek, maka siswa bergantian mandi hingga terlambat masuk kelas. Siswa-siswa itu tidak bisa masuk. Akibatnya satu kelas isinya murid cewek semua.

Namun demikian ditengah keterbatasan fasilitas itu SMAN 7 yang kala itu masih di sebut SMANTU (karena SABHATANSA belum lahir) memiliki bibit-bibit unggul dibidang olah raga khususnya bola volley. Kita selalu tampil dalam ajang kejuaraan antar SMA se kota Malang. Walaupun belum mampu mencapai hasil maksimal namun nama Sunaryo saat itu cukup disegani di Malang. Di bidang musikpun demikian. Saat itu SMAN 7 punya 2 group musik yang berbeda aliran, yaitu aliran rock yang dipimpin oleh Julie Charles dari jurusan IPS dan group musik dangdut yang dipimpin oleh Wahyu Sukarno Putra dari jurusan IPA. Padahal saat itu sekolah belum punya peralatan musik tapi semangatnya luar biasa. Ada juga kegiatan tari atau dance. Kita punya prestasi yang cukup membanggakan di bidang tari khususnya break dance. Nama Iwan Break Dance cukup populer kala itu. Ada pula nama Erwin Subiantoro pencetus berdirinya PMR. Pada edisi berikutnya akan saya buat tulisan tersendiri mengenai tokoh bola volley, musik, break dance dan PMR ini. Siswa generasi milenial perlu tahu sejarah angkatan terdahulu agar makin cinta alumninya.

SEJARAH RINGKAS SABHATANSA

Pada tahun 1989 jumlah siswa makin banyak sehingga butuh suatu identitas untuk mempersatukan semua. Termasuk juga mempersatukan alumni dalam suatu wadah ikatan alumni. Maka dibentuklah panitia lomba untuk mencari julukan atau sebutan yang tepat karena nama SMANTU dipandang sudah kuno dan tidak layak jual. Dari lomba tersebut akhirnya diputuskan nama SABHATANSA. Sebagai juaranya adalah siswa kelas 1 (satu) 6 dari angkatan ke 7 yaitu siswa yang masuk tahun 1988 dan keluar tahun 1991.SABHATANSA adalah singkatan dari SATYA BHAKTI TANSAH TRESNA. Satya berarti janji; Bhakti berarti pengabdian, Tansah artinya senantiasa, sedangkan Tresna adalah penuh kasih sayang. Jadi Sabhatansa berarti janji untuk mengabdi dan senantiasa penuh kasih sayang dalam mengemban tugas. (cakmet)

Share Now:

26 Responses

  1. Abot tenan jadi siswa perintis. Lebih berat lagi jadi gurunya lha murid e memel2 tibake. Salut untuk perjuangannya ?

  2. Jadi ingat masa lalu…masa2 susah…sekolah jalan kaki, cari nunutan biar bisa cepat nyampek…bener2 penuh kenangan .

    1. Kami atas nama pengurus dan panitia mohon maaf ya Ibu. Semoga kita bisa dipertemukan pada saat reuni akbar nanti.
      Web site ini juga baru kami bangun sebagai ajang silaturahmi kita para alumni siswa dan guru

    2. Maaf Bu. Reuni Akbar kemarin kita mengundang 40 guru purna. Tapi gak semua bisa hadir. Untuk menentukan nama2 yang diundang kita koordinasi dengan Pak De

  3. Tahun 1989 muncul nama Sabhatansa..
    Dari hasil lomba logo.. mungkin dari temen² yg masih ingat siapa pemenangnya dan pencetis kata Sabhatansa yg notabane nya angkatan 91..
    Siapa tahu dari pengurus IKA Sabhatansa berkenan bemberikan apresiasi bagi pencetus SABHATANS

  4. Sedikit tambahan..
    Kadang kita bingung masuk angkatan berapa.. maka di SMAN 7 Malang disepakati angkatan berdasarkan tahun lulus..
    Semoga yg membaca tidak bingung…

  5. Saya termasuk angkatan ke 3 Mbah, terdiri dari 6 kelas , setiap hari berjalan dari sebelah gang radio GL 7 kalau gak salah, atau lewat sebelah kantor kecamatan yg depannya ada patung 2 jari atau 2 anak cukup kemudian terus melalui perumahan2 sampai ada sungai kecil sebelah jalan yg lurus ke jl. kedawung , dimana untuk sampai ke sekolah ada jembatan kayu kecil yg harus dilewati , untungnya ada beberapa teman cowok yg dg ihklas dan setia menolong kita2 para cewek, belum lagi kalau teman2 yg rumahnya di jl. Kedawung atau kaliurang bertengkar , jembatan kayu itu ditarik jadi kita2 yg cewek gak bisa melompat kalau gak dibantu teman cowok, thanks to Almarhum Budi, untuk sahabatku Saifudin Zuhri, Almarhum Suwarno, Almarhum Suliadi, dan mungkin teman2 yang lain yang saya sudah lupa …miss you untuk teman2ku seperjalanan Suliyah, Nunuk, Heny dan siapa lagi lupa…makasi Mbah sudah mengingatkan…

  6. Alhamdulillah pernah menjadi siswa SMAN7 Malang, lulus tahun 1988, tidak tahu angkatan berapa? berangkat ke sekolah jalan kaki, pulang juga jalan kaki waktu itu awal masuk kepala sekolah pak Suyono dan waktu lulus pak Munawar (Dan 1 KKI) tetapi di SMAN7 yang diajarkan di ekstra kurikuler Funakoshi,

  7. Sy tinggal di Betek/ MT.Haryono gg XVII kalau berangkat sekolah jalan kaki melewati jembatan bambu yg membentang sungai brantas. Namun sering sekali keberuntungan datang di jl. ketemu pak Hendri guru fisika, kadang bu budi astuti guru fisika, kadang bu windi yg selalu ngajak untuk boncengan ke sekolah. Memang terasa akrab sekali hubungan murid dan guru. Tks guru-guru semua atas bimbingannya…..

  8. Jadi ingat masa lalu di SMAN 7 ,ingat ada kambing masuk kelas ,plg pergi jalan kaki lewat sawah,njajan dikantin (lebih tepatnya warung pak bon,sebab bangunannya terbuat dari bambu) wis pokoke wakeh kenangan dan perjuangannya waktu itu ….ok maju terus IKASABHATANSA

  9. Aku iku angkatan pertama,pengalamanku ke sekolah ya sering naik Cikar dtg disekolah pasti klambiku rusuh Kabeh kenek boto kadang nunut wong liwat pokok sak onok e kendaraan,Lha Hamur ku Nang Dulek..aku lek Budal Karo Suto Omahe Nang Tanjung..biasane aku naik spd mtr tp sering mlaku n golek tunutan mulai tekan Rajabali -Kedawung…tp yo seneng ae ngono iku tak lakoni mek 2 thn…ya smg kita diberikan Kesehatan ..Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..?
    **Mantab Tenan Cak Met**
    ## SALAM IKASABHANTASA ##?????

  10. apapun dirimu, siapapun kamu ingat selalu dalam visi dan misi mu iyalah BERMANFAAT dan BERMATABAT.

    motto by : sound of seven.
    #caksu90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter